Monday, May 6, 2013

Aku bertengkar hebat dengan Oxana, tunanganku. Bukan yang pertama kali karena sejujurnya kami tidak terlalu cocok. Namun, kami telah berkencan sejak usia lima belas dan kami telah menjadi cukup pemalas untuk berpisah dan memulai hubungan dengan orang baru lagi.

Dari sudut mata, aku bisa melihat si supir taksi kembali mengerlingku dari kaca spionnya, menunggu persetujuanku kepada tawarannya.

Jarak adalah sebuah alasan klise untuk ketidakharmonisan hubungan kami belakangan. Pekerjaannya di Petrovaradin tidak bisa dikompromikan, sementara aku juga menganggap penting studiku di Beograd. Ketika ia mengungkit tentang hubungan kami ke arah yang lebih serius, entah mengapa semuanya berakhir dengan saling bentak dan kebungkaman yang tidak mengenakkan.

"Bagaimana?" Pria yang tidak kenal lelah itu kembali buka suara.

Aku menatapnya sejenak. Jujur saja, sebenarnya ia bicara pada orang yang tepat. Tawarannya menggiurkan. Tidak ada yang bisa menggantikan sensasi menghabiskan malam bersama wanita lain ketika kau sedang ribut dengan kekasihmu. Balas dendam diam-diam yang sangat sempurna dan membuatku bisa menyeringai demikian lebar jika esok pagi ia masih berteriak-teriak di telepon.

Tetapi, aku telah berubah. Oxana membuktikan dirinya mampu bertahan menghadapiku dan sederet keberengsekan yang kulakukan. Sudah seharusnya aku memberi penghormatan yang pantas kepadanya.

"Saya mesti menolaknya," ujarku seraya merogoh-rogoh sakuku. "Rumahku sudah dekat, ya yang itu. Ini. Anda simpan saja kembaliannya."

Pria itu agak kecewa awalnya, namun sesudah melihat jumlah uang yang kuberikan, wajahnya menjadi cerah. "Hvala lijepa," ujarnya sungguh-sungguh.

"Nema na čemu," balasku seraya turun dan menutup pintunya.

Taksi itu menghilang di tikungan, sementara aku mendorong pagar dan berniat menelepon Oxana setelah aku mandi nanti. Kami akan baik-baik saja.

TAMAT
"Tempatnya bagus, saya berani menjamin, bukannya tempat-tempat murahan biasa," pria itu kembali bicara dengan nada yang bersemangat. "Tidak jauh dari Knez Mihailova."

Aku memasang wajah datar.

"Saya ini pria yang jujur dan terhormat. Menipu adalah sesuatu yang pantang. Jika saya bilang bagus, Anda bisa percaya tanpa ragu." Ia melanjutkan, berbelok di sebuah tikungan. "Banyak yang berkunjung dan puas. Semestinya Anda mencoba, selagi masih baru."

Lelaki paruh baya ini telah terlatih memasarkan. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang penuh keyakinan mampu menerbitkan sedikit rasa penasaran, jika bukan ketertarikan. "Apa istimewanya?"

"Konsepnya segar," ujarnya meyakinkan. "Seperti kantor polisi dan penjara, begitu kira-kira nuansanya. Anda datang, memilih sesuka Anda, kemudian selanjutnya kira-kira Anda yang menentukan."

Ia mengangkat alis dan terkekeh.

Mungkin bedebah tua ini tidak tahu aku penduduk asli Serbia yang keluarganya sudah menetap sedemikian lama sejak beberapa generasi dan memiliki berbagai usaha, termasuk yang jenisnya begini. Sepupuku Mirko baru membuka satu, kurang dari setengah tahun yang lalu. "Apa namanya?"

"Intimates," ia menjawab. "Atau Inmates, dengan 'ti' yang diselipkan memakai tanda kurung. Anda tahu, permainan kata anak-anak muda begitu."

Tidak pernah mendengarnya. Aku mengangguk dan kembali memandang ke luar jendela, mengingat kejadian tidak mengenakkan di Petrovaradin tempo hari, sekaligus menimbang-nimbang apakah ini saatnya untuk bertindak dewasa atau membiarkan Milan Lazarov yang lama mendobrak untuk berkunjung.
Pria itu kelihatan agak sedih. "Žao mi je," desahnya meminta maaf, "saya sudah berlaku tidak sopan kepada Anda."

Aku menggeleng kecil. "Sama sekali tidak masalah."

Ia meluruskan punggungnya dengan kedua tangan memegang kemudi, kemdian memiringkan tubuhnya ke arah kanan dengan bunyi bergemeretak. "Saudara saya bilang itu cara yang bagus untuk mendapatkan uang tambahan. Dia memperoleh cukup banyak dari setiap tamu yang berhasil dibawanya ke klab-klab itu," pria itu kembali mengerling padaku lewat spionnya. "Secara pribadi saya anggap itu tidak pantas. Tetapi, dia bersikeras meyakinkan saya untuk mencoba."

"Tidak perlu merasa tak enak hati," aku tersenyum tipis. "Saya mengerti."

Kami berhenti di lampu merah.

"Putri saya baru meninggal bulan lalu karena sakit dan terlambat ditangani karena masalah biaya," ia berkata lirih. "Adiknya kini menderita sakit yang gejalanya mirip."

Biasan lampu hijau menerangi wajahnya yang sedih.

"Anda biasanya membawa orang-orang itu ke mana?" Tanyaku pada akhirnya.

Dasar bajingan tua.
Beograd lagi.

Supir taksi ini mengemudi perlahan dan berhati-hati. Berkali-kali matanya yang biru kecil melirik padaku lewat spionnya yang buram dan digantungi kartu-kartu pemeriksaan kendaraan berkala berlogo merek pelumas tertentu.

Pria itu tersenyum setiap pandangan mata kami bertemu. Matanya menyipit, pinggirannya berkerut. Aku mengangguk dan membuang pandangan ke luar jendela. Kami melewati tengah kota. Arsitektur modern yang suram bercampur dengan gedung-gedung tua peninggalan abad lalu yang lebih kusukai, dihiasi lampu-lampu, serta kesenduan setelah hujan.

"Malam yang dingin," supir taksi itu berbicara. Dari logatnya, sepertinya ia orang Hungaria.

"Da." Aku menjawab singkat.

Kami melewati sebuah jembatan yang merentang di atas Sungai Danube. Supir taksi itu kembali melirikku dari spionnya, kelihatan agak ragu pada awalnya. "Saya bisa membawa Anda ke tempat yang hangat."

Suara mesin taksinya kasar, mobil keluaran lama. Aku mengerti apa yang mereka biasa lakukan untuk mendapat uang tambahan.

"Saya lebih suka pulang." Tolakku halus.