Aku bertengkar hebat dengan Oxana, tunanganku. Bukan yang pertama kali karena sejujurnya kami tidak terlalu cocok. Namun, kami telah berkencan sejak usia lima belas dan kami telah menjadi cukup pemalas untuk berpisah dan memulai hubungan dengan orang baru lagi.
Dari sudut mata, aku bisa melihat si supir taksi kembali mengerlingku dari kaca spionnya, menunggu persetujuanku kepada tawarannya.
Jarak adalah sebuah alasan klise untuk ketidakharmonisan hubungan kami belakangan. Pekerjaannya di Petrovaradin tidak bisa dikompromikan, sementara aku juga menganggap penting studiku di Beograd. Ketika ia mengungkit tentang hubungan kami ke arah yang lebih serius, entah mengapa semuanya berakhir dengan saling bentak dan kebungkaman yang tidak mengenakkan.
"Bagaimana?" Pria yang tidak kenal lelah itu kembali buka suara.
Aku menatapnya sejenak. Jujur saja, sebenarnya ia bicara pada orang yang tepat. Tawarannya menggiurkan. Tidak ada yang bisa menggantikan sensasi menghabiskan malam bersama wanita lain ketika kau sedang ribut dengan kekasihmu. Balas dendam diam-diam yang sangat sempurna dan membuatku bisa menyeringai demikian lebar jika esok pagi ia masih berteriak-teriak di telepon.
Tetapi, aku telah berubah. Oxana membuktikan dirinya mampu bertahan menghadapiku dan sederet keberengsekan yang kulakukan. Sudah seharusnya aku memberi penghormatan yang pantas kepadanya.
"Saya mesti menolaknya," ujarku seraya merogoh-rogoh sakuku. "Rumahku sudah dekat, ya yang itu. Ini. Anda simpan saja kembaliannya."
Pria itu agak kecewa awalnya, namun sesudah melihat jumlah uang yang kuberikan, wajahnya menjadi cerah. "Hvala lijepa," ujarnya sungguh-sungguh.
"Nema na čemu," balasku seraya turun dan menutup pintunya.
Taksi itu menghilang di tikungan, sementara aku mendorong pagar dan berniat menelepon Oxana setelah aku mandi nanti. Kami akan baik-baik saja.
Taksi itu menghilang di tikungan, sementara aku mendorong pagar dan berniat menelepon Oxana setelah aku mandi nanti. Kami akan baik-baik saja.
TAMAT
No comments:
Post a Comment