Pria itu kelihatan agak sedih. "Žao mi je," desahnya meminta maaf, "saya sudah berlaku tidak sopan kepada Anda."
Aku menggeleng kecil. "Sama sekali tidak masalah."
Ia meluruskan punggungnya dengan kedua tangan memegang kemudi, kemdian memiringkan tubuhnya ke arah kanan dengan bunyi bergemeretak. "Saudara saya bilang itu cara yang bagus untuk mendapatkan uang tambahan. Dia memperoleh cukup banyak dari setiap tamu yang berhasil dibawanya ke klab-klab itu," pria itu kembali mengerling padaku lewat spionnya. "Secara pribadi saya anggap itu tidak pantas. Tetapi, dia bersikeras meyakinkan saya untuk mencoba."
"Tidak perlu merasa tak enak hati," aku tersenyum tipis. "Saya mengerti."
Kami berhenti di lampu merah.
"Putri saya baru meninggal bulan lalu karena sakit dan terlambat ditangani karena masalah biaya," ia berkata lirih. "Adiknya kini menderita sakit yang gejalanya mirip."
Biasan lampu hijau menerangi wajahnya yang sedih.
"Anda biasanya membawa orang-orang itu ke mana?" Tanyaku pada akhirnya.
Dasar bajingan tua.
No comments:
Post a Comment