Beograd lagi.
Supir taksi ini mengemudi perlahan dan berhati-hati. Berkali-kali matanya yang biru kecil melirik padaku lewat spionnya yang buram dan digantungi kartu-kartu pemeriksaan kendaraan berkala berlogo merek pelumas tertentu.
Pria itu tersenyum setiap pandangan mata kami bertemu. Matanya menyipit, pinggirannya berkerut. Aku mengangguk dan membuang pandangan ke luar jendela. Kami melewati tengah kota. Arsitektur modern yang suram bercampur dengan gedung-gedung tua peninggalan abad lalu yang lebih kusukai, dihiasi lampu-lampu, serta kesenduan setelah hujan.
"Malam yang dingin," supir taksi itu berbicara. Dari logatnya, sepertinya ia orang Hungaria.
"Da." Aku menjawab singkat.
Kami melewati sebuah jembatan yang merentang di atas Sungai Danube. Supir taksi itu kembali melirikku dari spionnya, kelihatan agak ragu pada awalnya. "Saya bisa membawa Anda ke tempat yang hangat."
Suara mesin taksinya kasar, mobil keluaran lama. Aku mengerti apa yang mereka biasa lakukan untuk mendapat uang tambahan.
"Saya lebih suka pulang." Tolakku halus.
"Saya lebih suka pulang." Tolakku halus.
No comments:
Post a Comment